• Post 1
  • Post 2
  • Post 3


assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

TENTANG BLOG INI

Selamat datang di blog saya. Terimakasih sudah berkunjung.

Anak saya sudah gede, dan ternyata saya belum siap. Karena anak saya gak mungkin dikecilin lagi, jadinya saya yang harus ngebut belajar. Masalahnya, saya gak tahu mesti ngapa?

Ada yang bilang, biarkan mengalir begitu saja (memangnya selokan dibiarkan ngalir sendiri?). Ada yang kasih saran supaya imannya diperkuat (How? Di-las?).

Dalam rangka belajar yang enggak tahu itulah blog ini saya buat. Jangan tanya untuk apa? Setengah hari ini saya sudah makan 3 kali, porsi besar. Kalau ditanya yang berat-berat bisa tambah kurus badan saya nanti.

Yang jelas ini bukan blog curhat. Selain saya gak suka ngeluh, menurut saya curhat itu tidak lebih dari masturbasi. Buang waktu, buang tenaga, tanpa hasil nyata kecuali semangat 45 - 45 detik menggebu setelah itu koplo.

Dengan menuliskan semua yang saya alami, suatu saat – ketika pikiran saya waras misalnya, saya bisa mengevaluasi kembali segala sesuatunya. Sehingga saya tidak sampai mengulang melakukan kesalahan yang sama.

Disamping itu, saya berharap blog ini bisa membantu membuat komunikasi saya dengan Adella menjadi lebih gamblang (Tapi kira-kira Adella mau baca blog ini apa tidak ya? – Halah, belum apa-apa kok sudah pesimis!).

Seandainya Anda punya saran, dengan senang hati saya akan menerimanya. Silakan kirim via email ke TjakDoel@Gmail.com. Kalau Anda berkenan, saran itu akan saya post juga, biar bermanfaat buat orang banyak.

Struktur blog ini aslinya user friendly, tapi berhubung saya suka usil utak-atik, akhirnya jadi sedikit (cuma sedikit kok) agak ruwet. Mau konsultasi sama yang bikin blog rasanya gak enak. Lha wong sudah dikasih gratisan kok tega-teganya ngoprek. Makanya resiko terpaksa ditanggung sendiri.

Kalau Anda memang benar-benar dibuat bingung, silakan klik NAVIGASINYA dulu.

Terimakasih.

Yogyakarta, Januari 2013 .

Terimakasih kepada DZIGNINE untuk template blognya yang cantik.

Post Terakhir

12 March 2014

Hadeeehhhhhh!




Pagi, sebelum berangkat ujian tengah semester: 
- Jangan panggil aku bapak kalau kamu sampai gak bisa ngerjain UTSmu. 
- Siap, pak! 

 Sore: 

- Bagaimana UTSmu? 
- Gawat BRO. Berantakan!



SELINGANHOME

26 January 2014

Masih Tetep Pikun


Karena minggu lalu saya lupa ulang-tahun Adella, maka sejak senin reminder di tablet dan dua telepon seluler semuanya on. Setiap sore semua konser tulat-tulit memberi peringatan, hari minggu Yuni ulang-tahun. 

Kali ini saya bener-bener gak mau pikun lagi. Mosok baru 52 tahun kalah dibanding almarhum bapak yang sampai umur 80 ingatannya masih tok cer? 


Ulang Tahun

Saya sudah konsultasi ke beberapa dokter, tapi tidak ada yang memberi diagnosa mantap. Makanya resep dari merekapun gak ada yang saya tebus. Masalahnya, kalau diagnosanya saja ngambang, siapa nanti yang tanggung-jawab kalau setelah minum obat saya malah balik jadi muda lagi? 








- Wis lah, gak usah dipikir banget. Yang penting kamu masih ingat WC, berarti masih normal. 

Nah, yang kasih nasehat itu juga dokter. Tamat SMA masuk teknik sipil, tapi lulusnya dokter jiwa. Orangnya cerdas, meskipun agak koplak. 

Setiap awal tahun saya membantu ngisi SPT pajak tahunan, maka pertemuan beberapa hari lalu sekaligus saya manfaatkan untuk minta second opinion mengenai gejala pikun saya. 

Barangkali yang saya butuhkan memang cuma sedikit lebih santai, karena dibanding pak dokter sepertinya kondisi saya malah lebih baikan. Beliau sudah beberapa kali ngeloyor begitu saja ninggal istri di pasar atau di pesta nikahan. Saya cuma sekali, itupun keburu ingat dan segera balik lagi sebelum ketahuan. 

Pagi tadi seperti biasa saya bangun jam 04.30. Seger, waras, dan yang penting gak lupa kalau emaknya Adella ulang-tahun. Yuninya sendiri masih mlungker kemulan. Hari minggu memang biasa bangun agak siangan, jadi kasih selamatnya juga nunggu setelah Yuni bangun. 

Merasa gak ada yang kelupaan, selesai memberi makan kucing dan ayam saya internetan sambil nunggu Yuni bangun. Tapi tiba-tiba alarm salah satu telepon seluler saya bunyi. 

Di pojok kanan atas LCD terbaca tulisan 25 Jan 2014, di bawahnya dengan huruf super gede, 06.00 PM. 

Apes lagi! Jam di telepon seluler saya ternyata telat setengah hari. Mestinya alarm itu bunyi kemarin sore, supaya saya gak lupa beli kado buat Yuni. 

#langsung lapar.


24 January 2014

Jawaban Untuk Cempluk




























Bukan mau sok-sokan tapi memang harus saya beritahukan kalau dulu saya kuliah di dua perguruan tinggi, karena materi bahasan kali ini berkaitan dengan Cempluk, panggilan error yang saya berikan pada teman kuliah di kedua tempat itu. 

Gak usah dibahas kenapa mesti pakai cempluk-cemplukan, dan kenapa juga dua orang yang ketemunya berselang 7 tahun itu semua mau dipanggil Cempluk, meskipun panggilan itu sebenarnya gak match blas dengan cassing mereka. 

Hanya satu yang perlu saya jelaskan, bahwa yang akan jadi pelengkap penderita kali ini adalah the older Cempluk, biar the young one, yang juga sering mampir di blog ini tahu, sasaran tembaknya bukan dia. 

Sejak blog ini aktif saya sering menerima masukan by sms atau email dari duo Cempluk (Gak pernah BBMan, karena sampai sekarang saya belum minat jadi jama’ah blek borot). SMS terakhir saya terima dari Cempluk senior beberapa hari lalu sehabis upload “ternyata oh ternyata”. 

- Kamu percaya Adella nggak minat baca komik hentai? 

Saya belum menjawab. Alasan pertama karena saya harus menghargai pengalaman Cempluk lebih dari 26 tahun menjadi ibu dari 4 anak, yang menurut pengakuannya sendiri, semuanya tukang bohong. Alasan kedua, saya tidak bisa mengabaikan realita bahwa dengan memanfaatkan cassingnya yang imut, dulunya Cempluk adalah pakar ngibulin orang-tua. 

Kalau tidak menyaksikan sendiri bagaimana piawainya Cempluk main sandiwara di hadapan orang-tuanya, saya gak bakal pernah tahu bahwa sebenarnya orang-tua bisa begitu gampang dikadali. 

Jadi, apakah saya juga bakal dibohongi Adella? 

Nanti dulu, sebelum saya lancang mempertanyakan kejujuran Adella, lebih baik saya kembali ke masa lalu saya sendiri. 

Waktu seumuran ABG saya pernah beberapa kali berusaha membohongi orang-tua. Bapak gampang dikibuli, tapi ibu, amit-amit. Entah lantaran saya terlalu bego atau ibu saya yang memang smart, pokoknya apapun trik yang saya pakai selalu kandas. Gagalnya selalu dengan cara sama, ibu minta saya mengulang bicara sambil menatap mata ibu, dan saya langsung keok setiapkali ibu bertanya “Kenapa kamu bohong lagi?” 

Seandainya setelah tahu saya bohong ibu terus marah-marah sambil pasang muka galak, atau ngamuk-ngamuk seperti bapak, barangkali bolak-balik ketahuan bohongpun gak bakal ngaruh, tapi karena saya malah diajak bicara baik-baik, lama-lama jadi gak enak sendiri. 

Tapi tidak bohong pada orang-tua, eh, ibu, bukan berarti membuat saya jadi anak manis. Bedanya dengan anak lain, semua kelakuan saya diluar rumah tidak ada yang sengaja saya sembunyikan dari ibu. Tahu sukur, tidak ya kebetulan. 

Tiba-tiba muncul pertanyaan, kenapa setelah itu saya tidak pernah lagi berusaha membohongi ibu? Kenapa anak yang sering dibilang turunan setan oleh para tetangga ini malah jadi penurut? 

Jelas pasti bukan karena saya mendadak jadi anak manis. Saya tetap nakal, jahil, dan tidak jarang nantang resiko secara berlebihan. Kalau diukur menggunakan skala anak manis, posisi saya di luar skala dan gak kelihatan lagi. 

Setelah mikir sampai menghabiskan 4 kaleng sarden jatah pakan kucing, akhirnya saya hanya nemu satu jawaban : Saya patuh dan ogah bohong karena ibu saya selalu memberi reaksi yang proporsional terhadap masalah yang saya timbulkan. Seluruh tindakannya selalu mempertimbangkan kebutuhan saya sebagai anak yang sedang mencari jati-diri, termasuk seandainya harus menjatuhkan hukuman. 

Saya pikir, kalau saya bisa fair terhadap Adella, saya tidak perlu lagi kuatir bakal dibohongi atau mendapat perlawanan membabi-buta. 

Apakah saya bisa seyakin itu? 

Saya tidak punya pilihan. Kalau saya ingin Adella mempercayai saya, maka saya harus duluan bisa mempercayai Adella.


PREV -KILAS BALIK- NEXT

19 January 2014

Pikun Kok Dipelihara!


















Suer ewer- ewer, saya lupi #saking lupanya, kalau hari ini Adella ulang-tahun. Sejak bangun jam 04.30 saya malah sibuk bantu teman yang kena tilang di Bali. 

Saya baru ingat ketika lagi asyik nongkrong di WC sambil merem-melek. Karena proyek yang satu ini gak kenal “pause”, ya terpaksa dilanjut dulu sampai seluruh rangkaian ritualnya paripurna. 

Tapi dasar mulai pikun, begitu selesai, ulang-tahunnya kelupaan lagi. Jadinya, setelah keluar dari ruang keramat, bukannya kasih selamat ulang-tahun saya malah ngurus kucing yang mulai ribut minta makan. 

Lalu tau-tau sudah jam 8, dan saya belum mandi. Padahal ada janji ketemuan dengan konsultan pajak di kantor. Kalau sudah begitu, gak ada pilihan lain kecuali gabrus-gabrus. Selain mandi dan pakai baju, semua dikerjakan sambil ngider. Adella sudah gak kepikiran lagi. 

Saya sudah mancal motor, siap ngacir, ketika salah satu sopir saya telepon. Selain lapor, tamu yang sewa mobil sudah check in di bandara, dia kasih tahu, kebun binatang sepi. Kalau Adella masih pengin main, mau dijemput. 

Badalah! Saya baru ingat kalau pernah punya rencana bikin surpise-an buat Adella. Tapi apanya yang mau dibuat kejutan, wong saya malah lupa. 

Akhirnya, setelah beberapa saat tolah-toleh sambil nyengir sendiri macam monyet ketulup, saya masuk rumah, menemui Adella, kasih selamat ulang-tahun dan cium pipi. Sudah, cuma begitu. 

Gantian Adella yang cengar-cengir.



WONDERFUL JOURNEY / HOME

18 January 2014

Super Dad Garing


Waktu saya masih ABG, menu utama saya setiap hari minggu adalah nonton film Little House On the Prairie. Acara lain boleh lewat – termasuk kelayapan bareng teman-teman, tapi yang satu ini tidak. 

Film itu bercerita tentang kehidupan sebuah keluarga yang tinggal di Walnut Grove, Minnesota, tahun 1870 an. Favorit saya adalah tokoh ayah yang diperankan Michacel Landon. 

Salah satu adegan yang paling saya suka, dan sekarang pengin saya lakukan adalah ketika ayah dan anak bicara berdua saat anak sedang nemu masalah. Gak ada omelan dan tanpa salah-salahan. Pokoknya begitu banget – wis bayangno dhewe, saya repot mencari kalimat buat menceritakan. 

Sudah berulang-kali saya coba bicara seperti itu dengan Adella, tapi hasilnya beda. Tetep gak nyambung. Sampai kemudian saya sempat berpikir, barangkali realitanya memang tidak gampang bicara dengan anak. Yang di film itu alur ceritanya memang sengaja direkayasa, biar enak ditonton. Coba kalau adegannya seperti pas saya bicara dengan Adella, yang satu ngecipris, satunya bengong dengan pikirannya sendiri, kan gak ada bagusnya blas buat ditonton. Masih enakan nonton si Doel Anak Betawi, seru, banyak marah-marahnya. 

Repotnya, ketika logika saya mulai bisa menerima kenyataan, naluri saya malah berontak. Gak pakai teriak-teriak sih, tapi bikin gerah. Saya dituduh gampang menyerah dan mencari-cari alasan untuk nutupi ketidak mampuan saya menyelesaikan masalah. 

52 tahun bernafas memberi saya cukup pelajaran untuk tidak mengabaikan, apalagi konfrontasi dengan naluri. Kalah atau menang hasilnya selalu sama, gerah. Jadi saya pilih mengikuti naluri, meskipun nalar saya mencak-mencak. 

Maka, ketika ada kesempatan, saya temui Adella. Saya ngaku mengalami kesulitan untuk memahami Adella, tapi saya pengin jadi baik untuknya. 

Nulisnya di sini gampang, tapi saat mau bicara, mulut sudah mangap lama, kalimatnya gak kunjung keluar. Ada harga diri orang-tua, ada rasa kuatir nanti Adella jadi ngelunjak, dan yang paling parah, getuk lindri yang belum tuntas saya kunyah malah nyangkut di tenggorokan. 

Begitu getuknya lolos dan mulai bicara, kalimat selanjutnya malah nyerocos begitu saja seperti peluru lepas dari senapan mesin, sampai saya sendiri tidak ingat lagi apa yang saya ucapkan. 

Tapi saya rasa bukan omongan saya yang akhirnya membuat komunikasi kami setelah itu jadi agak baikan. 

Ketika saya berani mengakui kekurangan saya, rasanya jadi plong. Saya tidak punya beban lagi untuk berlagak jadi orang yang lebih pinter, lebih ngerti, atau sok beribawa. 

Begitu saya menjadi diri sendiri, yang gak perduli lagi apakah kelihatan norak, oon atau apapun, Adella jadi lebih mudah diajak bicara. 

Ups, terbalik! Sepertinya lebih pas kalau dibilang setelah itu saya jadi lebih mudah bicara dengan Adella. 

Saya rasa biang buntunya komunikasi memang ada di saya. Mestinya saya tahu, super dad imitasi hanya membuat anak jadi bingung dan sebel, lalu ujung-ujungnya memaksa anak memilih, berontak atau bungkem.

PS: 
1. Untuk yang mau komentar: jangan memuji hebat lagi, ya! Suer, kepala saya sensitif melembung. Kalau kebanyakan dipuji nanti penampakan saya jadi seperti alien. Do’a kan saja penyakit super dad itu tidak kambuh lagi. 

2. Buat Ronal yang nunggu jawaban: Jangan kecewa kalau solusinya ternyata hanya seperti ini. Setiap orang punya cara masing-masing untuk menyelesaikan masalah. Yakinlah, kalau saatnya tiba nanti, pasti nemu cara yang pas.



WONDERFUL JOURNEY / HOME

11 January 2014

Ternyata Oh, Ternyata















.



September 2013 #Edisi telat dipublikasi. 


Gak tahu kenapa, mendadak saya pengin naik Trans Jogja. Bisnya adem, sopirnya kalem. Enak saja rasanya melakukan perjalanan tanpa harus senewen menghadapi lalulintas yang semrawut. 

Tapi kali ini saya kecele. Trans Jogja sekarang beda jauh. ACnya gak dingin, sepanjang perjalanan pintunya gak nutup, ditambah lagi sopirnya kasar dan ugal-ugalan. Membuat saya merasa lebih dekat rumahsakit ketimbang Tuhan. 

Ah sudahlah, saya tidak punya niat membahas Trans Jogja. Saya cuma pengin cerita tentang segerombolan ABG berseragam sekolah yang naik di halte depan SMP 5. 

Segera setelah mereka naik, suasana menjadi meriah. Buat saya celotehan anak-anak selalu enak didengar – terlepas dari apapun obyek yang diomongkan. Paling geli ketika mereka mulai membicarakan lawan jenis. Serius atau bercada, sama lucunya. 

#Tapi menyiksa juga, karena saya harus berusaha mati-matian supaya gak kelepasan ketawa sendiri.# 

Sesaat pikiran saya sempat melayang ke masa lalu. Kebayang juga tingkah saya saat itu. 

#Oh my God, saya jadi merasa malu sendiri. 

Mendadak lamunan masa-lalu saya buyar ketika ABG cewek di sebelah saya nyeletuk, “Gara-gara Andi tuh, ketahuan download hentai pas pelajaran. “ 

Glekkkkk! Saya keselek, terus mecicil sesaat. Gak bisa bernafas. 

Ada yang belum ngerti hentai? Saya bukan peminat, tapi hobby saya ngobok-obok internet “memaksa” saya “paham betul”. Yang sudah ngerti gak usah meringis. Sudah dibilang saya kan cuma terpaksa. Awal mulanya terpaksa melihat lantaran penasaran. Setelah itu terpaksa nengok lagi karena merasa belum ngeh. Seterusnya ya terpaksa juga ….. 

Wis, ah. Gak usah diterusin, nanti ada yang terpaksa ketularan.. 

Nama Andi cuma sekali disebut, selanjutnya gak ada lagi yang perduli. Anak-anak lebih bersemangat membahas hentai. Gayeng dan seru sekaligus membuat saya puyeng. 

Bagaimana tidak puyeng kalau 5 jam kemudian saya mendapati kenyataan bahwa hentai juga bukan menu asing buat Adella dan teman-teman sekolahnya. 

Sore itu Adella cerita banyak tentang teman-teman sekolahnya. Ada yang baru pulang dari Singapura, ada yang ganti IPad, naksir cowok, sampai akhirnya merembet ke hentai. 

Saat seumuran Adella saya pernah kepergok baca komik porno. Meskipun nampak kaget, ibu saya gak pakai acara marah-marah. Tapi, mak, badan saya tetap panas dingin, dan sampai beberapa hari kemudian pengin rasanya pindah ke dunia lain. Lah sekarang Adella malah sukarela bercerita. Bicaranyapun enteng saja. Justru saya yang megap-megap, persis seperti waktu Jack nekat ngembat kuning telur rebus yang masih panas. 

Sesaat saya sempat bingung antara merasa senang karena Adella mau terbuka, dan heran dengan ekspresi santainya saat bercerita, seolah-olah hentai gak beda dari si celana kolor Sponge Bob. 

- Kamu juga ikutan download? 
- Enggak! 
- Sering baca? 
- Pernah ikut, tapi sekarang males. Ceritanya gak asyik. 

#Tiba-tiba saya pengin makan orang.# 

WONDERFUL JOURNEY / HOME

07 January 2014

Renungan Tahun Baru


















Saya tergolong cuek terhadap hal-hal yang saya anggap tidak penting. Seperti kalau ada orang bertanya agama, seringnya saya jawab atheis - kecuali urusannya memang berkaitan dengan agama. Begitu juga kalau ditanya pekerjaaan, biasanya saya jawab, sopir. 

Urusan penampilan, kecuali lagi bersama Yuni atau Adella, juga cenderung bodo amat. Mau pakai celana lusuh dan bolong dengkulnya, atau pakai T-shirt merah jambu, kuning, ungu, gak masalah. Salah satu akibatnya, kalau kebetulan keluar bareng Wawan, salah satu staff saya yang selalu modis, kebanyakan orang menyangka saya office boy. Disangka begitupun gak masalah. 

Beberapa kali Yuni dan Adella protes, minta saya sedikit memperbaiki penampilan. Biasanya dua tiga hari ada perubahan, lebih rapi, tapi selebihnya kumat dekil lagi. 

Saya merasa lebih nyaman tampil seadanya ketimbang harus mematut diri sekedar biar enak dilihat orang lain. 

Saya hidup untuk diri sendiri, bukan untuk menyenangkan orang lain! 

Ternyata salah besar. Kebiasaan seenak udel adalah cerminan dari orang yang tidak bisa mengatur dirinya sendiri. 

Kesimpulan itu saya dapat ketika saya iseng mengevaluasi perjalanan hidup saya sebelum menikah, yang lumayan meriah, kejedot, kebanting, dan penuh luka babak-belur. Lalu membandingkan dengan kehidupan setelah ada Yuni. Saya masih tetap cuek, tapi porsinya sudah jauh berkurang. Hidup saya mengalami perbaikan. Lebih tenang, lebih teratur dan tentu saja lebih menyenangkan. 

Barangkali memang ada baiknya saya mulai belajar mengatur diri sendiri. Bukan untuk menyenangkan Yuni dan Adella, apalagi sekedar tampil bagus di mata orang lain, tapi saya rasa, seorang imam, di rumah-tangga atau di manapun, memang harus bisa mengatur diri sendiri terlebih dahulu.






SELINGANHOME