Post Terakhir

10 March 2013

KENTHU


Lagi angler sambil mencari ide buat nulis lagi, tiba-tiba Adella bertanya, "Pak, kenthu itu apa?"

Bagi yang sudah paham, saya minta maaf, terpaksa tidak disensor. Untuk yang belum tahu, kenthu adalah bahasanya orang "bawah tanah" di Jogja (- sebut saja terminal, lokalisasi ... silahkan tambah lagi yang lain)  untuk making love.

Istri saya njenggirat. Saya sendiri sebenarnya lebih kaget, tapi sebagai laki-laki kan harus kelihatan kalem. Itu sebabnya saya tidak segera bereaksi – dan sampai 2 hari kemudian ternyata masih belum bisa komentar apa-apa, sementara Adella malah sudah lupa dengan pertanyaannya.

Dari mana Adella tahu istilah itu? Jelas dari komunitasnya lah, mosok dapat ilham?

Di BBM Adella kenthu sempat menjadi bahan omongan, walaupun tidak secara spesifik membahas kenthu itu apa. Dari beberapa orang yang terlibat, sebagian masih belum ngeh, tapi yang lain sepertnya sudah paham bentul.

Tapi mereka kan baru kelas 7, tahu dari mana?

Kucing yang sejak tadi ndlosor dekat kaki menjawab "Sampeyan sendiri dulu tahu dari mana?"

Mendadak saya panas dingin. Saya mulai tahu begituan, bahkan suda ngeh apa yang terjadi, sejak kelas 5 SD. Mula-mula bingung dan merasa aneh, tapi tak lama setelah itu segala informasi berdatangan secara ajaib, vulgar dan tentu saja ngawur. Membuat otak saya mateng sebelum waktunya.

Gak kebayang sama sekali seandainya Adella menerima informasi seperti yang saya terima dulu. Masalahnya, yang beredar di luar memang seperti itu dan sekarang lebih mudah diakses oleh siapa saja.

"Tadi teman-teman cowok pada lihat foto cewek telanjang."

Nah, lhoooooo, iya kan? Kenthunya belum selesai, eh, maksud saya masalah yang satu belum kelar sudah nongol yang lain.

Dalam sebuah pertemuan sekolah saya pernah curhat ke salah satu orang tua teman Adella. Jawabnya enteng. "Asal anak kita imannya kuat, saya rasa gak masalah.". Lain lagi dengan Haji Haris. Haji sableng satu ini ngakak sampai terbungkuk-bungkuk.

"Giliranmu sudah tiba. nGgak usah bingung. Nikmati saja ....."
"Terus saya mesti ngapain?"
"Perhatikan saja aktifitas anakmu, tapi jangan terlalu merecoki. Gak perlu pakai teori atau persiapan macam-macam. Santai tapi waspada. Akhlak harus dibina, Iman diperkuat, tapi jangan cuma bersandar disitu doang."

Yaahhhhh, kalau cuma ngomong begitu semua orang juga bisa Ji.

"Heh, percuma kita dulu badung kalau pengalaman kita dilupakan begitu saja! Apa yang dulu kita lihat atau alami, kurang lebih seperti itu pula yang bakal terjadi di lingkungan anak-anak."

Jreng jreng jreeenggggg ... Haji Haris melotot, nafasnya tersengal-sengal karena lehernya saya cekik. Untuk sesaat saya shok berat.

Waktu kelas 6 SD saya pernah ikut ngintip murid begituan di ruang kelas di SMA tetangga sekolah. Kami semua tertangkap. Yang ngintip di hukum jemur di lapangan sambil kena omel guru, pelakunya – yang perempuan masih SMP, lakinya murid SMA, digelandang entah ke mana.

"Wong ediaannn, dikasih tahu malah nyekek. Kalau aku mati siapa yang mau kasih makan kucingku?"

"Mosok sampai segitunya Ji?"
"Ya jelas. Istriku cantik, banyak yang mau .....
"Maksudku anak-anak!"

Murid perempuan itu anak seorang tokoh agama. PAstinya dia sudah mendapat bekal cukup supaya tidak berbuat neko-neko.

Tau ah. Bagaimana nanti saja. Kurasa sebaiknya saya belajar tidak gampang panik dulu dan belajar See No Evil, Hear No Evil dan Speak No Evil. Waspada tapi tidak ngumbar prasangka buruk. Minimal supaya Haji Haris tidak mati sia sia tercekik tanpa sengaja.

Kalau ada yang bertanya, apakah pertanyaan Adella sudah kami jawab apa belum?

Jelas belum. Sampai hari ini saya masih panas dingin. Soalnya masih belum nemu cara bagaimana menjelaskannya. Tapi saya berusaha  menjawab secepatnya, jangan sampai Adella duluan mendapat jawaban ngawur dari komunitasnya.


Artikel Terkait Wonderful Journey

9 comments:

  1. aku malah baru tahu ttg kata itu mas, tak kira kata yg sama dgn mengeluarkan gas, cuma dikurangi *k* nya saja.

    Nggak gampang ya mas jadi ortu itu, kebayang jaman seperti ini tentu tugas ortu lbh berat ya dibanding ortu jaman dulu? atau sama saja mas mnrtmu ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perasaan gampang dulu. Soalnya kalau dulu orangtua nggereng dikit nyali anak sudah mengkeret. Lha sekarang kalau orangtuanya ngotot, anak malah tambah berani ngelawan. Orangtua sekarang harus bertindak smart, gak bisa main otoriter lagi.Sementara pengaruh dari luar rumah juga semakin sulit dibendung. Dulu orangtua bisa nyeleks teman main anak, sekarang mana bisa?

      Delete
    2. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
  2. Waduh. Pertanyaan yang sulit. Jawabannya pun harus tepat dan tidak berbelit.

    Anak saya masih umur TK. Belum tiba masanya ngomong beginian. Tapi kalau saatnya tiba, saya juga bingung mau bilang apa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertanyaan itu datang bisa masih lama, tapi bisa juga enggak.

      Siang tadi didepan kantor kebetulan ada anjing lagi melakukan "upacara ritual".

      Saya tahu ada anjing begituan karena cucu tetangga kantor yang baru 8 tahun teriak-teriak "ada anjing kawin". Nah, lho? Waktu iseng saya tanya, kawin itu apa sih? "bikin anak"

      Seandainya dia anak saya, pasti saya sudah pingsan tujuh turunan. Bayangin, anak seumur itu tahu dari mana?

      Tapi menurut saya, cepat atau lambat, bukan masalah selama anak mau bertanya. Yang perlu diwaspadai justru kalau anak gak pernah tanya, tapi ternyata sudah punya segudang info dari kiri-kanan.

      Delete
  3. Dosen saya dulu pernah menulis buku Pendidikan Seks untuk Anak Usia dini...
    Bu Sri Esti Wuryani
    Mongho di ublek2 di gramedia.
    Saya suka senang mempelajari tentang hal hal yang dulu dianggap tabu,
    Nah setelah menikah malah banyak ilmu yang terlupakan, harus bongkar2 buku kuliah nih.

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  5. maaf, ada komentar yg terpaksa saya hapus

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete